Sunday, 31 July 2016

Mengapa vaksin gagal melindungi tubuh terhadap penyakit?

Walene James, pengarang buku Immunization: the Reality Behind The Myth, mengatakan respon inflamatori penuh diperlukan untuk menciptakan kekebalan nyata. Sebelum pengenalan vaksin cacar dan beguk, kes cacar dan beguk yang menimpa anak-anak adalah kes tidak berbahaya. Vaksin mengganggu tubuh sehingga tubuh kita tidak menghasilkan respon inflamatory terhadap virus yang disuntik.

SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) meningkat dari 0.55 per 1000 orang pada 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 – 4 bulan, waktu dimana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kes SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Peratus kes SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Peningkatan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena kesedaran kebersihan dan kemajuan perubatan kecuali SIDS. Kes kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada bayi naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.

Dr. W. Torch telah merekodkan 12 kes kematian pada anak-anak yang terjadi dalam 3,5 – 19 jam selepas imunisasi DPT. Dia juga melaporkan 11 kes kematian SIDS dan satu yang hampir mati 24 jam selepas suntikan DPT. Semasa dia mengkaji 70 kes kematian SIDS, 2/3 korban adalah mereka yang baru divaksinasi mulai dari 1,5 hari sampai 3 minggu sebelumnya.

Mengapa vaksin gagal melindungi tubuh terhadap penyakit?

Tidak ada satu kematian pun yang dihubungkan dengan vaksin. Vaksin dianggap hal yang mulia dan tidak ada berita negatif apapun mengenainya di media utama karena ia begitu menguntungkan bagi perniagaan farmasi.

Ada alasan yang kukuh untuk percaya bahwa vaksin bukan saja tak berguna dalam mencegah penyakit, tetapi ia juga kontraproduktif karena melemahkan sistem ketahanan yang meningkatkan risiko kanser, penyakit kurang ketahanan tubuh, dan SIDS yang menyebabkan cacat dan kematian.

No comments:

Post a Comment