[7/3, 12:05 AM] Amalkhairy Abd Rahman: Tanya rasa mmg nk ja sokong vaksin...tp bila tnya lubuk hati dan akal dalam2 mmg xsokong.... wallahualam...
Tp mcm aku pernh smbg ngan kawan2 la....akhir zaman ni hampir semua bnda berbayar...tetiba vaksin yg mahal harganya nk diberi percuma...dipujuk..dirayu hampir setiap kali utk diberikan....Tak rasa suatu yg pelikkah??
Mcm campak semua tu biasa klu dh kena mmg badan dah semulajdi bg imun ke tubuh dan jrg jmpa yg kena kali ke2 melainkan cmpak besar n kecik..apa pun aku bkn pakar tp ttp rs ada suatu disebalik semua nie...yg pro jgn kecam..just pendapat masing2.....
Bahaya Suntikan Vaksin dan Imunisasi.
Imunisasi: Satu Konspirasi.
Jika kita melihat sejarah vaksin moden yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia telah dibiayai oleh Keluarga Rockefeller.
Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionis Internasional. Dan kenyataannya, mereka adalah pengasas WHO dan badan-badan strategik lainnya :
The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 – the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).~ (Dr. Leonard Horowitz, “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”)
Jika dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi moden (imunisasi) adalah salah satu campur tangan (konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperhambakan seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.
Apa Kata Para Akademik Tentang Vaksinasi?
“Satu-satunya vaksin yang baik adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”~ Dr. James R. Shannon, mantan pengarah Institusi Kesihatan Nasional Amerika.
“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University.
“Kanser pada dasarnya tidak dikenali sebelum kewajiban vaksinasi cacar mula diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kes kanser, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanser itu tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”~ Dr. W.B. Clarke, pengkaji kanser.
“Ketika vaksin dikatakan selamat, keselamatannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diertikan secara umum”.~ Dr. Harris Coulter, pakar vaksin.
“Kes polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962.
“Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabak kanser, penyakit autoimun, dan kes autisme.”~ Neil Z. Miller, pengkaji vaksin.
“Vaksin punca terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronik, lumpuh, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenali dua dekad lalu, menjadi wabak di seluruh dunia saat ini.”~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika.
“Tak masuk akal memikirkan bahwa anda dapat menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil. Tubuh mempunyai cara pertahanan tersendiri yang bergantung pada vitaliti ketika itu. Jika dalam keadaan sihat, tubuh akan mampu melawan semua jangkitan, dan jika keadaannya sedang menurun, ia tidak akan mampu. Dan anda tidak dapat mengubah kesihatan tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun ke dalamnya.”~ Dr. William Hay, “Immunisation: The Reality behind the Myth”.
Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya.
Di Jerman para pengamal perubatan menolak imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa lebih kurang 90% pakar obstetrik dan 66% pakar pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.
No comments:
Post a Comment