• Informasi kesihatan juga dipenuhi contoh yang mengaitkan vaksin dengan timbulnya penyakit. Vaksin telah dikaitkan dengan kerosakan otak, IQ rendah, gangguan konsentrasi, kemampuan belajar kurang, autisme, neurologi.
• Vaksin beguk dan campak yang diberikan pada anak-anak misalnya telah menyebabkan kerosakan otak, kanser, diabetes, leukimia, hingga kematian (sindrom kematian bayi mendadak).
• Kajian tahun 1992 yang diterbitkan dalam The American Journal of Epidemiology menunjukkan peningkatan kematian anak-anak meningkat hingga 8 kali ganda pada jangka waktu 3 hari setelah mendapat suntikan vaksin DPT.
• Kajian awal oleh CDC US mendapati anak yang menerima vaksin Hib berisiko 5 kali lebih mudah mengidap penyakit tersebut dibandingkan anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin tersebut.
• Pada tahun 1977, Dr Jonas Salk (Penemu vaksin Polio salk) mengeluarkan kenyataan bersama ilmuan lain bahwa 87% dari kes Polio yang terjadi sejak tahun 1970 adalah akibat dari vaksin Polio.
• Di US sebelum tahun 1980 terdapat 1 dari 10.000 anak menderita autisme. Pada tahun 2002 Institut Kesihatan Negeri US mencatat peningkatan angka tersebut menjadi 250 dari 10.000. Kini persatuan orang tua penderita autisme Amerika memperkirakan peningkatan kes autisme ± 10% per tahun. Vaksin yang mengandungi raksa diyakini sebagai penyebabnya.
• Menurut Boyd Haley, pengurus program kimia Universiti Kentucky dan pakar logam beracun berkata ”Thimerosal mampu meresap di protein otak, ia sangat beracun bagi saraf dan enzim” Haley pun terlibat dalam penelitian pada bulan Ogos tahun 2003, mendapati banyaknya kandungan raksa pada penderita autisme, yang dapat dianalisa melalui kadar raksa pada rambut mereka yang bermaksud etil raksa dari thimerosal telah meresap ke dalam otak dan organ tubuh lainnya sangat bepotensi menyebabkan kerosakan sistem saraf dan mengganggu fungsi ginjal.
• Menurut San Jose Mercury News (6 Julai 2002), seorang dari sepuluh anak-anak dan remaja US mengalami kelemahan fizikal dan mental, menurut pengamatan tahun 2000 terdapat pertambahan mendadak angka kecacatan pada penduduk usia muda. Sedangkan pada tahun sebelumnya data menunjukkan peningkatan kecacatan pada anak-anak.
• Sampai usia 2 tahun, anak-anak Amerika dilaporkan telah menerima 237 mikrogram raksa melalui vaksin. Kadar ini melebihi had yang ditetapkan Organisasi Perlindungan Alam US yaitu 1/10 mikrogram per hari.
• Sebuah penemuan di Amerika menunjukan bahwa vaksin Hepatitis B mengandungi 12 mcg raksa (30 kali ganda dari had), DtaP dan Hib mengandungi 50 mcg raksa (60 kali ganda dari had) dan Polio mengandungi 62,5 mcg raksa (78 kali ganda dari had).
• Di US hari ini kes asma, diabetes dan penyakit auto imun pada usia anak telah meningkat 20 kali lganda dari tahun sebelumnya. Gangguan konsentrasi telah meningkat 3 kali ganda.
• Setiap tahun 25.000 bayi Amerika mengalami kematian mendadak. Vaksinasi adalah penyebab terbesar kematian mendadak. Jepun telah meningkatkan usia penerima vaksin sehingga 2 tahun kemudian angka kematian mendadak turun drastik di negara itu (Cherry, et al, 198
• Sweden menghentikan vaksinasi batuk kokol pada tahun 1979 karena ternyata wabak penyakit ini terjadi pada anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi. Setelah itu penyakit ini menjadi penyakit ringan tanpa kes kematian. Hal ini secara nyata menunjukkan bahwa vaksin sebenarnya menyebarkan penyakit.
• Pada tahun 1975, Jerman menghentikan kewajiban vaksin Pertussis, dan jumlah anak yang mengalami penyakit itu turun drastik. Pada tahun 2000 jumlahnya turun sampai 10%.
Bukti di atas menjadikan vaksinasi layak dipersoalkan. Fakta-fakta menjelaskan bahwa vaksin tidak meningkatkan kesihatan anak-anak. Tetapi anehnya vaksin terus-menerus dibuat dan diwajibkan kepada masyarakat.
No comments:
Post a Comment